Rambut gue minimal atau bisa disebut botak atau kalo jijik mending jangan disebut.
Rambut gue plontos kayak anak smk yang lagi mos.

Kalau dilihat-lihat rambut gue itu kayak kacang atom sukro, gue saranin lo jangan lihat entar takutnya mata lo bisa diabetes.
Kutu gue juga pada demo gara-gara rambut gue yang gak seperti dulu.

*Demo masyarakat kutu yang mendiami rambut gue*

kata kutu ‘pejabat’ “kembalikan lahan rambut yang seperti dulu kalo gak, gak papa sih asal ada uang sejuk”

kata kutu ‘pelajar’ “lebatkan kembali rambut agar kami bisa bolos tanpa ketahuan”

kata kutu ‘mahasiswa’ “lakukan segera reboisasi”

kata kutu ‘pengusaha’ “kembalikan lahan hisapan darah yang seperti dulu”

gimana coba? Gue harus bilang apa, masak gue harus tanya pada bintang-bintang kayak ariel Noah bukannya kayak ariel malah kayak parto nanti *kembali ke Tkp ;(*

gue sebenernya gak mau botakin rambut, tapi ini terpaksa men! Gue dipaksa! :@

jadi ceritanya gini, 😐
waktu itu pasca upacara guru pembimbing yang kayak kambing ngumumin bahwa besok selasa akan ada sesi pemotretan untuk ijazah dan guru pembimbing berharap siswa mau merapikan rambutnya masing-masing. Gue cuma kepikiran “ah gak penting:/”

setelah upacara lenyap seluruh siswapun masuk ke kelas gebetan masing-masing, eh:o maksudnya ke kelas selingkuhan masing-masing. Hehe:) maksudnya ke kelas masing-masing.

Setibanya dikelas jam pertama dan kedua pelajaran suasana masih aman, damai, sentosa, adil dan makmur;). Tapi setibanya jam ketiga suasana pelajaran menjadi mecekam kayak di rumah hantu. Jam ketiga adalah jam untuk mata pelajaran bahasa inggris tapi kok jadi mata pelajaran tata rias ya?:/ kenapa gue katakan tata rias, karena guru bukannya speak english tapi malah motong rambut siswa satu-satu dan anehnya rambut dipotong berpetak-petak kayak sawah.

sial

Kesialan-sialan

kesialan gue hari itu dan hari-hari selanjutnya dimulai dari situ. Dimana gue terpaksa mangkas rambut menjadi sangat minimal untuk menutupi petak-petak dirambut.

setelah potong gue harus pura-pura tertawa bahagia didepan teman-teman yang tertawa membabibutanya dihadapan rambut botak gue. Gue juga harus ikhlas foto dengan muka lonjong dihadapan kamera sialan.

tanggapan-tanggapan orang setelah gue potong rambut jadi minimal itu beragam seperti budaya Indonesia. Ada yang bilang “wah, tambah gondrong aja nih”, ada yang bilang “kutu lo pada ngungsi ke kepala gue nih woii” dan ada yang “bagus…” Kampret,
dan ada teman cewek gue yang bilang ke gue “lo

ganteng

..” dan itu adalah hinaan terbesar setelah gue potong masak rambut kayak *NJI gini dibilang ganteng.

setelah ngaca gue rada kaget dan hampir aja tuh kaca gue lempar, Asstagfirullah pikir gue, muka gue tambah jelek. Gue suka eneg sendiri kalo habis ngaca, gue suka merinding, bulu kuduk berdiri, bulu hidung rontok, bulu ketek jadi keriting waktu abis ngaca.

intinya adalah gue jadi nyadar kalau sebenernya gue emang jelek dan gue bisa ngerasain penderitaan orang berambut minimal.

dan bisa jadi ini adalah ujian dari Allah SWT biar gue bisa lebih percaya diri dalam kehidupan ini.
gue banyak belajar dari penderitaan gue ini, ya gue sangat-sangat menderita dengan rambut minimal ini.

Iklan