b
Tentang sebuah yang pasti akan datang. Tentang sebuah yang mungkin bisa datang kapan saja. Tentang sebuah fase awal menuju selama-selamanya.

02 Juni 2014

Gue lagi tidur, tiba-tiba “Ketrabak Kereta..” setelah itu terdengar tangisan menjerit-jerit di telinga membangunkan tidur gue. Gue lagi mimpi apa kenyataan, pikir gue. Memang kalo mimpi pagi-pagi itu bimbang, antara itu nyata atau emang lagi mimpi. Setelah itu gue langsung bangun, gue coba duduk sebentar, masih terdengar suara tangisan. Lalu gue keluar dengan muka penasaran ala orang yang sering bangun kesiangan. Dan innalillahiwainnaillahirojiun, ternyata om gue meninggal dunia ketabrak kereta. Jadi ceritanya begini, almarhum seperti biasa mengantarkan anaknya pergi ke halte, untuk menunggu BRT menuju ke sekolah, pukul 6 pagi. Setelah sampai di halte, almarhum lalu pulang, kebetulan jalan satu-satunya pulang menuju ke rumah adalah melewati rel kereta api. Sesampainya di depan rel, almarhum berhenti karena ada kereta di jalur rel satu dari arah barat, kemudian almarhum kembali berjalan dengan sepeda motor warna biru yang biasa dipakai istrinya—kebetulan pagi itu almarhum memakai motor itu–tak seperti biasanya, almarhum menghiraukan teguran pesepeda motor lainnya yang sudah mengatakan bahwa ada kereta, mungkin almarhum mengira itu untuk kereta yang tadi, namun na’as itu ternyata teguran bahwa ada kereta di rel jalur dua dari arah timur.
c
Sebenarnya, mungkin kalo almarhum lebih cepet beberapa detik saja pasti akan selamat. Tapi, sayang almarhum nggak lebih cepet beberapa detik dan akhirnya tertabrak kereta. Motornya masuk ke sungai dan almarhum tidak bisa diselamtakan. Niatnya mau pulang ke rumah, tapi malah pulang ke sisi-Nya. Ya umur orang siapa yang tau?
Mungkin ini ada kesalahan dari segi manusia, kenapa rel kereta api yang setiap pagi dilalui orang termasuk pelajar dan berjalur dua seperti itu, tidak ada palang dan lampu tanda ada keretanya, kenapa?
d
Kejadian itu seperti menggebrak hati gue, bahwa kematian bisa datang kapan saja, dimana saja dan dengan cara apa saja. Gue bukannya mau nakut-nakutin, tapi gue coba ngingetin, kematian itu bisa datang kapan saja, jadi siapkanlah dari sekarang. Kalo toh udah siapkan jadi enak pas nantinya, kedepannya. Kematian itu bukan akhir dari segala-galanya kok, kematian itu menurut gue awal dari selama-lamanya.
e
Misalnya gini, kalo kalian punya cita-cita pengen masuk surga, terus kalian udah berusaha di dunia dengan cara beribadah, berbuat baik dan hal-hal baik lainnya, nah untuk mewujudkan cita-cita kalian yang pengen masuk surga satu-satunya ya, mati dulu. Karena untuk masuk surga harus mati dulu.
f
Gue sebenarnya kasihan banget sama anak-anak (baca: adik keponakan) yang ditinggalkan almarhum. Mereka masih sekolah, 1 SMA untuk anak pertama dan 1 SMP untuk anak kedua. Semoga kalian diberikan kekuatan, ketabahan, kesabaran dan dimudahkan dalam menjalankan cobaan ini.

Gue mau bersyukur, anggota keluarga gue masih lengkap. Semoga kelengkapan keluarga gue ini diberi waktu panjang. Keluarga adalah sumber kebahagian. Jangan sia-siakan keluarga kalian, buat keluarga kalian bahagia, jangan sampai buat keluarga kalian menangis menyesal. Keluarga adalah segala-galanya. Ciptakanlah kebersamaan bersama keluarga, jangan sampai menyesal nanti waktu telah tiada.
Dan inilah akhir di post ini, tentang sebuah yang pasti akan datang, kematian.

Sok bener banget gue ya? Udah kayak Mario Teguh aja. Ingat, keluarga adalah sumber bahagia.

(Terima kasih kepada google yang telah menyediakan foto-foto yang super keren, terima kasih yang sudah mengupload fotonya di situs-situs sehingga saya bisa meminjam, fotonya saya pinjam dari google, nanti saya kembalikan)

Iklan