u
“Anak-anak, silahkan tuliskan cita-cita kalian, tapi, jangan pin BB kalian, karena sekarang belum trendnya BB.” suruh guru Bahasa Indonesia gue saat gue masih kelas 5 sd, semua guru memang suka menyuruh.

Gue masih inget banget, waktu itu beliau dengan badan perawakan kuli bangunan memakai baju batik hijau seragam bekas dirapikan dengan setrika, menyuruh gue dan teman-teman untuk maju satu-satu menuliskan cita-cita ke depan kelas di papan tulis dengan kapur tulis.

Satu persatu teman-teman gue menuliskan cita-citanya ke papan tulis, ada yang menuliskan: guru, pelukis, orang kaya, pengusaha, personel JKT48 dan lain-lain. Hingga tiba waktu gue, terakhir untuk menuliskan cita-cita ke papan tulis , gue berjalan hati-hati, tengok kanan-kiri memastikan tidak ada motor atau mobil yang sedang lewat, sesampainya di depan meja guru, gue meraih sepotong kapur tulis dan “Goblok, itu spidol!!!” suara guru gue menyadarkan gue, bahwa yang gue ambil itu spidol, bukan kapur tulis, setelah dua jam lebih, gue berhasil menemukan kapur tulis dan guru gue telah selesai ketiduran selama dua jam.

Gue lalu beranjak, dan menulis dengan ragu-ragu, gue menulis ‘Pemain Timnas’ setelah itu terjadi keheningan seperti di pemakaman atau jangan-jangan kelas gue pemakaman yang menyerupai kelas?

Lalu guru Bahasa Indonesia gue menerangkan dengan hikmat satu persatu apa yang dituliskan murid-muridnya dan menjelaskan cara menggapainya. Seperti ketika menerangkan dan menjelaskan profesi pelukis, “Cita-cita kok pelukis? Cari cita-cita lain. Cari profesi yang pasti.” seru guru gue.

Pelukis, apa yang salah dengan profesi pelukis? Kalau koruptor sudah jelas salah.
Apakah seseorang tidak bisa hidup dengan keindahan? Kalau tidak, mungkin dia sudah sakit-sakitan.

Lalu guru gue menerangkan dan menjelaskan cita-cita tentang guru, “Guru itu gajinya sedikit. Tapi, kalau memang mau jadi guru, dari sekarang harus belajar marah-marah, karena itu seperempat pekerjaan guru.” penjelasan guru gue dengan muka yang sampai sekarang masih gue ingat dengan kumis lebatnya.

Dan penjabaran guru gue kali ini, gue cukup setuju. Biasanya memang begitu dan biasanya kalau nggak paham gue setuju-setuju aja.

Lalu tiba pada tulisan paling bawah dan terakhir, beliau menunjuk ke cita-cita ‘Pemain Timnas’ dan dengan sedikit ketawa menghina atau meremehkan berkata “Pemain Timnas? Siapa yang menulis ini?”

“Abil, pak!” teriak teman sekelas gue.

“Kayak gitu kok, mau jadi pemain timnas? Nggak akan bisa, nggak akan pernah bisa jadi pemain timnas. Pemain Timnas itu badannya harus besar, tinggi, lha itu badannya kayak gitu kok mau jadi pemain timnas?” jelas guru gue.

“Hahahahahahahahahahahahahahahahaha.” semua teman tertawa.

“……….” gue patah semangat.

Terasa semua sangat mustahil bagi gue saat itu, mengenakan baju timnas Indonesia dengan lambang garuda di dada, rasanya sangat tidak mungkin.

Cerita diatas memang benar-benar terjadi, sekitar lima tahun silam. Cerita yang membuat gue patah semangat untuk menjadikan mimpi gue menjadi nyata, bukan mengada-ada.

Sampai sekarang gue masih bingung, kenapa banyak orang meremehkan gue, dalam bidang apapaun? Orang-orang, teman-teman, bahkan keluarga sendiri sering meremehkan gue. Misalkan gue mau ngangkat galon, gue dilarang sama nyokap: takut galonnya pecah, kalau yang pecah tangan gue nggak papa, soalnya harga galon sama tangan gue masih mahalan galon.
Waktu olahraga, guru gue menyuruh untuk sikap kayang
r
dan waktu gue mau kayang, temen-temen cewek gue pada menjerit histeris “Ihhhh.. Takut patah tulang iganya.. Nggak mau lihat..” cewek emang selalu lebay.

Biasanya buat melawan hinaan itu gue selalu Optimis. Ingat: Optimis itu harus realistis, realistis itu haru optimis. Optimis juga harus realitis, optimis nikah sama Nabilah JKT48 itu namanya sih bukan realistis.

Ok, kalian pernah nggak sih diremehin sama orang, temen atau keluarga? Cara melawan remehan mereka biasanya bagaimana, dengan cara apa?
Share di comment box ya, pengalaman diremehkan kalian!!

Iklan