s
Gue itu terkenal di mata temen-temen gue sebagai orang yang kurang jalan-jalan. Kalau lagi diskusi soal tempat-tempat yang jauh dari rumah, gue cuma bisa manggut-manggut aja.

“Gue kemarin habis ke Wonderia. Tempatnya keren, banyak komodo yang lagi kena penyakit komedonya..” Mijoe membuka pembicaraan.

“Wonderia itu dimana Joe?” tanya gue pengen tau, padahal kalaupun udah dijelasin gue juga nggak bakalan ngerti.

“Wonderia itu di daerah kompleks ursula, sekitar 1500 meter dari sekolah, tau nggak?” jawab Mijoe, sambil nunjuk-nujuk.

“Nggak.” kata gue gusar, sambil manggut-manggut.

Gue orangnya di mata temen-temen adalah temen yang paling susah diejek. Satu-satunya ejekan yang sering dilontarkan temen-temen ke gue adalah nanya soal jalan, dan palingan gue jawabnya asal-asalan. Gue sering diejek dengan pertanyaan-pertanyaan seperti ini, “Lo, orang yang nggak tau jalan itu ya?” dan gue selalu menjawab seperti ini, “Eh, mas. Orang yang nggak tau jalan itu bego banget. Yang namanya jalan itu yang berwarna hitam, terbuat dari aspal.. Nah, kalo sampingnya jalan itu namanya trotoar, fungsinya buat orang jalan, tapi sering disalahgunain orang buat jalan motor..” jawab gue sambil emosi.

Karena gue kurang jalan-jalan, maka dari itu kemarin bersama temen, gue Hang Out ke pusat kota Semarang.

Kesana gue dan temen gue, naik Bus Trans Semarang. Di dalem Bus Trans Semarang..

t

“Lho mbak, kok tiketnya Umum? Kan gue pelajar..” kata temen gue setelah menerima tiket.

“Lho, ternyata masih pelajar? Kok mukanya kurang ajar, gitu..” kata mbak-mbak petugas Bus Trans Semarang.

Setelah percakapan “Lho-Lho-an” antara temen gue dan mbak-mbak tadi, gue melihat sebuah keserasian antara mereka berdua, seperti Anang & Syahrini (baru-baru ini gue baru tau kalau mereka udah putus, ‘ketauan nggak pernah nonton gosip’).

Tak lama setelah itu, Bus berhenti di halte, lalu masuk beberapa orang.

“Sepertinya gue kenal..” gue mengira-mengira.

“Lho, kok kamu? Mau kemana?” tanya salah satu orang yang baru masuk dan ternyata dia temen sekelas gue, Firda.

“Iya nih. Mau Hang Out, tapi kayaknya bakalan Hank deh, soalnya kan gue nggak tau jalanan.”

“Haha, ceritanya anak rumahan nih?”

“Anak setan kali..”

Gue juga bingung, kok gue bisa akrab gitu, padahal di kelas kami nggak pernah ngobrol, bahkan lihat-lihatan pun nggak pernah. Orang pada males lihat-lihatan sama gue, soalnya orang takut matanya bintitan. Simpanse seneng lihat-lihatan sama gue, Simpanse mengira gue sodaranya.

15 menit kemudian, Firda memutuskan untuk turun, gue berharap sebelum turun Firda bilang ke gue, “Beb, aku turun dulu ya! Hati-hati, kalo ada apa-apa call me..” setelah itu kami cipika-cipiki.

Harapan gue terlalu muluk (gue terlalu buluk), gue nggak cipika-cipiki, dia pasti nganggep gue belum muhrimnya, kan Firda pake hijab dan anak pesantren, jadi sebelum turun dia bilang ke gue, “Yaudah aku turun dulu, kalo misalnya kamu nyasar, baca surat Al-Baqoroh 3x sama Yassin 5x aja..” lalu Firda turun, menghadap kiblat (cara turun yang religius).

3 menit kemudian, gue sama temen gue turun lewat jendela Bus. 4 menit kemudian, gue dibawa Ambulance. Dramatis.
Karena nggak mau mati dengan status Jomblo, guepun mengurungkan niat itu.

Kemudian gue dan temen gue masuk ke Gramedia, lihat-lihat doang-soalnya nggak punya uang. Setelah lemas dan puas lihat-lihat, gue keluar dan “Astagfirullah..” Firda jerit ketika lihat gue, sama seperti ketika dia melihat setan. Kali ini kami bertiga cuma senyum-senyum, mungkin Firda lagi buru-buru (baca: males ketemu gue) dan langsung masuk Gramedia.

Setelah adegan jerit-menjerit itu, gue dan temen gue muter-muter (baca: tersesat). Setelah muter-muter nggak jelas, gue dan temen gue ketemu sama temen gue waktu kecil, dan disaat-saat tersesat seperti itu: ketemu orang yang dikenal itu rasanya kayak dapat kabar kalo Anang & Krisdayanti balikan.

Lalu kita berempat muter-muter, lagi? Setelah itu kita makan: makanan dipinggir jalan yang membuat gue nggak bisa kencing waktu mau kencing, kencing disana bayar dan uang gue udah habis buat makan.

Muter-muter nggak jelas kami akhirnya berakhir disini:
j
calon sekolah gue, doain gue diterima ya, guys!

Setelah itu, sebelum kembali ke alam, gue dan temen gue (cuma berdua) memutuskan untuk hinggap sebentar di masjid (sholat sambil ngadem, ibarat berenang sambil nyuci baju). Setelah itu gue dan temen gue pulang, lagi-lagi naik Bus Trans Semarang, sayangnya di Semarang nggak ada jalur khususnya, jadi suka macet di jalan.

I really like this trip because this my first experience.

Ada yang pernah ngalamain jalan-jalan tapi nggak tau jalan? Share cerita kalian ya!

Iklan