j

Saat pengumpulan kertas pemilihan kegiatan Ekstrakulikuler.

Temen : “Kamu ikut ekstra, apa?”
Gue : “Ehm.. Ekstra Tari.” (niatnya bercanda)
Temen : “Oooooh..” (percaya)
Gue : “LOH, KOK MALAH PERCAYA?” (dari lubuk hati yang terdalam)

Setelah itu, gue curhat sama temen. Gue cerita pendek sempit kronologinya. Kenapa orang bisa percaya kalau gue ikut ekstra Tari.

Temen Curhat : “Makannya jadi orang jangan suka bercanda. Ada kalanya juga kamu harus serius.”
Gue : “…”

Ternyata gue salah tempat curhat. Gue curhat sama keponakan Mario Teguh. Niatnya gue pengen curhat, terus temen curhat gue membela gue dan bego-begoin orang yang percaya kalau gue ikut ekstra Tari, tapi malah gue yang kelihatan bego.

Tapi, ada benernya juga apa kata temen (keponakan Mario Teguh) gue tadi.
Gue jadi kepikiran terus.
Mau makan, inget “Makannya jadi orang jangan suka bercanda. Ada kalanya juga kamu harus serius.”

Mau minum, inget “Makannya jadi orang jangan suka bercanda. Ada kalanya juga kamu harus serius.”

Mau mandi, inget “Makannya jadi orang jangan suka bercanda. Ada kalanya juga kamu harus serius.”

Mau pacaran, inget “LO NGGAK PUNYA PACAR!!!”.

Bener kata temen gue. Kadang kala kita harus serius. Jangan bercanda mulu. Ya, tapi jangan serius mulu. Nanti malah cepet tua.

Punya temen yang bercanda mulu itu nggak enak, pas ditanya: “Darimana?”, jawabnya: “Dari tadi.”, pas ditanya: “Udah makan?”, jawabnya: “Udah.. kemarin.” kalau ditanya nggak pernah jawab serius, absurd mulu.

Tapi, kalau temen yang serius mulu juga nggak asik sih, kalau ditanya jawabnya serius mulu, seakan-seakan lagi debat capres. Misalnya, ditanya, “Mudah-mudahan nanti hujan, ya? Biar nggak ada pramuka.”, jawabnya “Nggak mungkin. Hari ini jumlah asap yang diserap oleh awan cuma 5,3 %. Kalau dihitung-hitung, jumlah asap segitu ditambah muatan elektron kemarin, cuma menghasilkan awan mendung. Nggak hujan.”

Mungkin hidup itu harus seimbang: kadang serius, kadang bercanda, kadang tidur di kandang.

Balik lagi soal: Kenapa temen gue bisa percaya kalau gue ikut ekstra tari?

Tapi, gue mikir. Gue mikir. Apa salahnya sih ikut Ekskul tari?
Nggak salah, sih. Tapi, Ekskul tari itu kan untuk cewek.

Gue mikir, lagi.
Apakah bodi gue mirip Sandrina:

sndrn

Nggak mungkin.
Gue cowok, woy! Gue bukan Sandrina. Tapi, Sondrono.

Apakah tubuhku lunak seperti penari? Tubuhku lunak, tapi kayaknya nggak seperti penari deh, mungkin lebih seperti ikan bandeng tulang lunak.

Iklan