Sudah hampir dua tahun ini, saya mondar-mandir, bolak-balik, dan pergi-pulang menggunakan moda transportasi ini. Namanya Trans Semarang, menggunakan sistem BRT atau bus rapid transit, yaitu bus yang memungkinkan penumpangnya untuk pindah ke bus lain tanpa membayar lagi. Bus ini di kalangan masyarakat Semarang lebih sering dan nyaman terdengar sebagai BRT dibanding Trans Semarang sendiri. Apalah arti sebutan sebuah nama, yang terpenting adalah tujuan manggil siapanya sama. Boleh manggil Trans Semarang ini dengan sebutan apa saja, mau BRT silahkan, mau Trans silahkan, mau lebih lengkap Trans Semarang juga silahkan, mau manggil Beb juga silahkan, mungkin kamu sudah sayang banget sama bus yang satu ini, makanya sampai manggil Beb segala. Yang boleh-boleh saja tapi sebenarnya nggak boleh itu manggil bus yang satu ini dengan sebutan Becak, itu boleh sih, tapi sebenarnya nggak boleh. Ini bus, besar, rodanya empat, ada AC-nya, sopirnya di depan, bukan becak yang rodanya tiga, ada AC-nya alami, sopirnya di belakang. Bisa bedain kan mana yang bus, mana yang becak?

Tanggal 2 Mei 2009, yang bertepatan dengan hari jadi Kota Semarang, bus ini mulai dikenalkan ke khayalak umum masyarakat. Dikenalkan saja, setelah itu sempat nggak terdengar lagi beritanya. Semacam gebetan gitu, yang suka menghilang tanpa kabar. Namun, beberapa bulan kemudian, bus ini resmi diresmikan oleh walikota Semarang saat itu. Bus yang resmi diluncurkan pertama kali adalah koridor I, yaitu Mangkang-Penggaron, dan sebaliknya. Baru beberapa bulan kemudian, muncul koridor-koridor lainnya. Sampai tulisan ini ditulis, Trans Semarang sudah mencapai IV koridor. Lumayan, sangat membantu masyarakat, dan tentu saja, semoga mengurangi kemacetan di jalanan.

 

Yang seru dari bus ini adalah nyaman, aman, cepat, dan murah. Bus ini menurut sudut pandang saya sendiri cukup nyaman, bus ini nggak bikin kita kepanasan dan keringetan, karena bus ini dilengkapi dengan AC yang pas, nggak kepanasan dan nggak juga kedinginan. Hal lain yang membuat bus ini nyaman adalah full music, jadi di dalam bus ini nggak usah khawatir bakal mati gaya kebosanan, karena di bus ini sendiri rajin diputar musik-musik, entah itu dari koleksi pribadi sopir, ataupun radio wilayah Semarang. Aman, bus ini juga bisa dibilang aman banget, belum pernah dan semoga jangan sampai terjadi, kecelakaan parah yang sampai merugikan. Cepat, bus ini dosa kalau misal ada yang bilang lambat. Saya merasakan sendiri kecepatan bus ini, walaupun besar, bus ini nggak mau kalah cepat dengan bus lainnya. Dan yang terpenting dari semua yang penting dari bus ini adalah murah. Cukup Rp. 1.000 darimana saja dan mau kemana saja untuk pelajar, dan Cuma Rp. 3.500 bagi umum. Cukup murah sekali untuk moda transportasi senyaman, seaman, dan secepat ini.

 

Pertama kali saya berkenalan dengan bus ini adalah sekitar kelas VIII. Waktu itu menjelang study tour ke Jakarta. Saya adalah tipikal orang yang jarang sekali berpergian jauh, terutama naik bus. Saya sangat bersyukur mempunyai orang tua dengan inisiatif, dan rasa sayang yang amat besar kepada anaknya. Study tour ke Jakarta waktu itu naik bus, dan memakan waktu yang lumayan agak lama. Mau anaknya tetap bisa ikut dan nggak kenapa-kenapa, orang tua saya punya inisiatif buat melatih saya membiasakan diri naik bus dan nggak kenapa-kenapa. Akhirnya dipilihlah Trans Semarang ini sebagai ajang latihan saya untuk membiasakan diri. Baru lihat busnya saja waktu itu saya sudah mual, apalagi masuk, duduk, dan menikmati, mana bisa. Akhirnya saya masuk, pertama masuk, saya langsung hampir jatuh, tapi beruntung saya nggak jatuh. Kebetulan waktu itu saya dapat tempat duduk. Dapat tempat duduk nggak membuat sepanjang perjalanan saya jadi berjalan cepat, semua sama saja, saya merasa pusing dan mual. Dan seperti yang diduga, sesampainya turun dari bus, saya langsung muntah-muntah. Latihan tersebut saya lakukan beberapa kali, dan tentu saja ada perkembangan yang terjadi. Pertama kali: naik, hampir jatuh, duduk, mual, pusing, turun, muntah-muntah. Kedua kali: naik, tetap hampir jatuh, mual, pusing, turun, dan sudah nggak muntah-muntah lagi. Ketiga kali: naik, sudah nggak hampir jatuh, duduk, pusing, sudah nggak mual lagi, turun, dan sudah nggak muntah-muntah lagi. Seperti itu terus sampai beberapa kali, hingga sampai akhirnya pada titik naik, nggak hampir jatuh, duduk, nggak mual, nggak pusing, turun, dan ganteng, karena saya sudah berhasil menikmati perjalanan mengelilingi indahnya Kota Semarang tanpa kendala-kendala yang mengganggu lagi. Dan akhirnya, saya ikut study tour ke Jakarta, naik bus, agak lama, dan pulang nggak kenapa-kenapa.

 

Pertama kali naik bus ini belum ada spesifikasi untuk pembagian penumpang. Namun, saat ini, seiring zaman dan pola pikir yang berkembang, bus ini jadi punya pembagian tersendiri untuk penumpang. Dulu, penumpang masih campur, mau cowok, mau cewek masih bebas duduk di mana saja. Sekarang sudah beda, karena belum muhrim, jadi penumpang cowok dan cewek dipisah. Tenang, masih tetap dalam satu bus kok, Cuma kalau cowok di bagian depan, sedangkan cewek di bagian belakang. Sekarang juga sudah ada Trans Semarang khusus pelajar, tapi Cuma khusus pagi saja. Seru banget pokoknya naik bus yang satu ini.

 

Harapan saya, dan mungkin harapan semua masyarakat, terutama Semarang dan sekitarnya, adalah semoga tambah ditingkatkan lagi fasilitas dan layanannya. Ditambah lagi biar tambah-tambah bagus lagi. Kalau bisa tambah lagi bus-busnya, biar penumpangnya nggak lagi nunggu-nunggu lama. Satu lagi, semoga akan lebih banyak lagi moda transportasi semacam ini di Kota Semarang, semoga bisa mengurangi dan menguraikan kemacetan.

Iklan