Kemarin ada tugas suruh bikin berita sendiri, tentang apa yang bisa diberitakan dari lingkungan sekitar. Banyak banget ide yang datang buat ini. Sempat mau bikin berita tentang perpustakaan yang sepi, tapi akhirnya pilihan jatuh pada masalah parkir yang memang lagi panas-panasnya di lingkungan sekolah.

Bikin capek-capek daripada yang baca cuma gurunya doang, mending saya share di sini saja, sekalian buat bahan postingan, sudah lama nggak ada sama sekali.

Selamat membaca~

SMKNEGERI4SEMARANGNEWS.COM (03/11/2016) – Hingga saat ini parkir masih menjadi masalah klise yang belum ada solusi terbaik untuk mengatasinya. Lahan parkir sekolah yang bisa dibilang terbatas, parkir GOR Tri Lomba Juang yang tidak seberapa, dan ditambah lagi dengan parkir Taman KB yang sudah dilarang, membuat banyak siswa mengaku kebingungan saat ingin memarkir sepeda motornya.

“Bingung, biasanya parkir di area Taman KB, tapi sekarang kan sudah dilarang. Mau di TLJ tapi penuh, jadinya nggak nyaman. Kalau di sekolah harus punya SIM sama kartu parkir,” jawab seorang siswa saat diberi pertanyaan tentang masalah parkir.

Tempat parkir di GOR Tri Lomba Juang yang saat pagi hari selalu ramai dan mengharuskan para pengendara yang ingin parkir untuk mengantri, ditambah tempat yang becek saat hujan turun, membuat para siswa tidak terlalu nyaman untuk parkir di sana. Ketidaknyamanan dan dilarangnya parkir di area Taman KB itu yang menjadi alasan banyak siswa memilih jalan pintas untuk parkir di sekolah meskipun belum punya SIM dan kartu parkir.

“Banyak banget, kebanyakan mereka kelas X dan XI, karena kebanyakan masih belum punya SIM, umurnya belum cukup,” kata satpam yang menjaga parkir SMK Negeri 4 Semarang.

Para pemilih jalan pintas itu menggunakan modus berangkat sepagi mungkin untuk menghindari bertemu secara langsung dengan satpam yang mulai berdiri di depan area parkir sekolah mulai dari setengah tujuh pagi.

Dengan banyaknya para pemilih jalan pintas ini, membuat area parkir sekolah yang terbatas menjadi selalu penuh dan tidak jarang terkesan berantakan. “Jadi ngerasa nggak adil aja, ya kalau misal nggak punya SIM sama kartu parkir harusnya parkir di luar aja. Ini tempat kan disediain buat siswa yang punya SIM sama kartu parkir, bukan mereka yang nggak punya. Semoga aja ada tindak lanjutnya,” kata seorang siswa yang sudah mempunyai SIM dan kartu parkir saat diminta pendapat tentang para pelanggar parkir di sekolah.

“Kami sedang menyusun solusi yang terbaik untuk masalah parkir itu. Minta doanya saja, semoga semua terlaksana dengan baik,” komentar pihak Kesiswaan saat ditanyai solusi yang tepat untuk masalah parkir ini.

Yang jelas para siswa sangat berharap solusi untuk masalah parkir ini bukan hanya mimpi, tetapi juga bisa terelasiasi. Bukan solusi yang hanya menguntungkan satu pihak, tetapi solusi yang memudahkan semua pihak. Bukan solusi yang hanya berlaku sesaat lalu berlalu begitu saja, tetapi solusi yang tepat yang bisa berlaku selamanya.

Iklan