Belum lama ini, hampir semua media sosial ramai sama yang namanya diskon. Diskon ini bukan sembarang diskon, bukan tanpa alasan. Bukan tentang para anak muda yang lama melajang lalu mendiskon cintanya ke publik. Tapi diskon untuk barang-barang yang dijual di toko online. Diskon besar-besaran ini dalam rangka memperingati harbolnas. Hari bola nasional? Bukan, tapi hari belanja online nasional.

Enggak kenal usia, suku, gender, apalagi agama, semua keranjingan buka situs toko online. Pagi sampai malam, dari situs sana ke sini, pilih ini dan itu. Bukan cuma mereka, tapi saya juga. Pemikiran saya yang minim pengalaman waktu itu: kapan lagi, selagi diskon, dan saya percaya kesempatan enggak datang dua kali.

Setelah mempertimbangkan beberapa hal: pertama, saya lagi butuh apa, kedua, seberapa besar diskonnya, dan terakhir, merknya. Dan jadilah saya klik beberapa barang dan saya masukkan ke keranjang.

Barang pertama, harganya enggak lebih dari dua ratus ribus. Saya pilih sistem pembayaran e-pay. Bayarnya melalui minimarket 24 jam, enggak perlu pakai kartu kredit atau semacamnya. Barang kedua, harganya lebih murah lagi, enggak sampai lima puluh ribu. Saya pilih sistem pembayarn yang berbeda dari barang yang pertama, saya pilih bayar di tempat.

Jujur saja, saya baru tahu ternyata belanja online sekarang dimudahkan banget. Terutama masalah bagaimana cara pembayarannya. Sekarang enggak perlu punya kartu kredit dan semacamnya atau pinjam orang tua dulu baru bisa belanja online. Cukup punya uang, barang manapun yang diinginkan bisa dibeli. Teknologi semakin berkembang, kapan hubunganmu sama dia berkembang? Iya, kamu.
Tiga hari kemudian, barang pertama datang. Saya enggak sabar buat buka, dan tara: kok kayak begini barangnya? Baiklah, saya masih coba berusaha menerima. Sehari berikutnya, barang kedua datang. Saya enggak sabar lagi buat buka, dan tara: wah, lumayan juga kayaknya barangnya. Sehari lagi, barang kedua sudah enggak normal lagi kerjanya. Barang kedua ini elektronik.

Kalau ditanya perasaanya bagaimana setelah belanja online di hari diskon bertebaran di mana-mana, saya lumayan kecewa. Kenapa? Belanja online itu seperti beli kucing dalam karung, saya enggak benar-benar tahu seperti apa wujud barangnya.

Tapi enggak ada yang sia-sia di hidup ini, ada yang bisa diambil dari kejadian itu: pengalaman.

Buat kamu yang belum pernah belanja online dan mau coba, saran saya: berhati-hatilah. Kalau bisa cari informasi sebanyak-banyaknya tentang barang yang ingin kamu beli. Bandingkan dengan toko online atau lebih baik lagi dengan toko di dunia nyata. Bandingkan harganya, kalau dirasa harganya beda drastis, kamu berhak curiga. Satu lagi, kalau bisa jangan beli barang elektronik. Kenapa? Karena kalau misalnya ternyata barang yang dibeli kualitasnya jelek, barang elektronik adalah barang yang paling cepat kelihatan jeleknya.
Bukan bermaksud mempengaruhi supaya enggak usah belanja di toko online, tapi sekedar mengingatkan saja. Sebenarnya mau belanja di toko online atau toko nyata sama saja, intinya sama-sama harus hati-hati.

Iklan