dan lain lain

Resolusi 2020

Adalah lelucon baheula ketika tahun baru dan kau bilang, “Wah, bangun-bangun udah tahun baru.” Namun ada yang lebih lelucon lagi dari itu, kau menulis resolusi dan kau pamerkan pada followers-mu yang itu-itu saja di Twitter. Tahun lalu kau pernah mendamprat habis-habisan orang-orang yang menulis resolusi sebagai orang-orang halu belaka, sebab menurutmu adalah percuma menulis resolusi sepanjang apapun—kau membandingkan dengan panjang Jalan Anyer sampai Panarukan—jika sepanjang tahun lebih senang rebahan, nonton Netflix, atau main Mobile Legend. Kau tentu tidak lupa dengan peristiwa mendamprat orang-orang yang menulis resolusi itu, sebab tidak mungkin kau lupa dari followers-mu yang itu-itu saja, ternyata ada yang lumayan terbakar dengan ocehanmu dan membalas dengan, “Resolusiku sepanjang tahun memang rebahan, nonton Netflix, dan main Mobile Legend, bangsat!”

∞∞∞

Baca lebih lanjut

dan lain lain

Seberapa Perlukah Permasalahan Kita Diketahui oleh Orang Lain?

Rabu (6/11) pukul 09.00-12.00 WIB ruang seminar yang terletak di lantai 5 Gedung Pascasarjana UPGRIS dipenuhi oleh mahasiswa dari berbagai jurusan dan semester. Selama kurang lebih sekitar 3 jam mereka nampak khidmat mendengarkan pemateri: Dr. Rini Sugiarti, M. Si, Dr. Nazla Maharani Umaya, M. Hum, dan Dr. Arri Handayani, S. Psi., M. Si yang tampil secara bergantian dalam acara Bahasa & Keluarga Indonesia dan bedah buku “How to Raise Great Family – Mengasuh Anak Penuh Kesadaran” itu.

Baca lebih lanjut

dan lain lain

Saya Ingin Memeluk Semua Orang yang Saya Temui di Jalan

Satu hari sebelum rakyat Indonesia merayakan hari kemerdekaan negaranya (16/8), Asysyifa Dinar Prashanty bersama Zakya, Zamtrio—dua mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris, dan Agus, Adinda, Hartono—tiga mahasiswa Pendidikan Matematika, mendarat dengan selamat di Bandar Udara Internasional Clark, Pampanga, Filipina. Sesampainya di bandara, Syifa bersama lima yang lain, dijemput Tuan Ernest dan Sir Maljun—perwakilan dari DMMMSU (Don Mariano Marcos Memorial State University)—untuk selanjutnya dibawa ke Chowking sebelum diantar ke tempat tinggal Syifa bersama teman-temannya—di dekat SLUC—selama 4 bulan ke depan di Filipina.

Baca lebih lanjut

dan lain lain

Apa yang Salah dengan Sistem Pendidikan di Indosesia Hari Ini?

Menjawab Pertanyaan Ben Laksana dan Rara Sekar

Beberapa hari yang lalu, dalam unggahan di Instagram, Ben dan Rara—suami dan istri ini, masing-masing pada akun pribadinya bertanya, ”Apa yang salah dengan sistem pendidikan di Indonesia hari ini?” Pertanyaan yang sangat menarik—di luar dari janji mereka yang akan membagikan buku, tas jinjing, dan kaos bagi jawaban terbaik versi mereka—bagi saya yang memang memilih untuk melanjutkan pendidikan di bidang pendidikan.

Baca lebih lanjut

dan lain lain

Meletakkan Tanda Tanya di Ujung Kata Demokrasi

Seperti yang sudah kita ketahui, Indonesia merupakan negara demokrasi. Jika menilik apa yang pernah dikatakan Abraham Lincoln, demokrasi adalah pemerintahan yang diselenggarakan dari rakyat, untuk rakyat, dan oleh rakyat. Mengacu definisi itu, apakah Indonesia sudah memenuhi klasifikasi demokrasi? Apakah benar kebijakan yang diambil pemerintah memang untuk rakyat? Bukan hanya untuk kepentingan kelas kapitalis saja? Untuk menjawab pertanyaan itu, mari kita telaah satu-satu. Baca lebih lanjut

dan lain lain

Menuntut Ilmu Sejauh 130 KM

Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina. Saya membayangkan pepatah tersebut tertulis di dinding kamar Aris, dan setiap malam sebelum tidur–entah sengaja atau tidak–selalu terbaca hingga akhirnya terpatri dalam benak yang membuat Aris suatu hari nanti memilih meninggalkan Kabupaten Blora untuk melanjutkan pendidikan ke Kota Semarang. Tentu kita sudah mengamini bersama bahwa kata Cina bukan berarti secara harfiah, dan membandingkan Cina dengan Kota Semarang, seperti ketika pagi hari kita berdiri di depan cermin, memandang diri sendiri, dan sepakat dengan bayangan yang ada di depan kita, bahwa kita mirip dengan aktor atau aktris kesukaan kita: tidak sepadan.

Baca lebih lanjut

dan lain lain

Kontra Penggunaan Sedotan Stainless

Kuliah di jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ternyata asyik juga, di sini saya belajar lumayan banyak hal, terutama tentang seluk-beluk bahasa dan sedikit sastra—saya kira komposisi dalam perkuliahan adalah bahasa 70% dan sisanya sastra, meskipun sastra bisa dibilang bagian dari bahasa itu sendiri dan mungkin sebaliknya. Seperti beberapa waktu yang lalu, mata kuliah Berbicara Kelompok memberi tugas untuk menyelenggarakan debat “kecil-kecilan” dengan tema bebas. Tentu saja ini sangat asyik bagi saya yang lumayan narsis jika harus berbicara di depan umum, apalagi saling beradu argumen itu kesukaan saya.

Baca lebih lanjut

dan lain lain

Teronggok

Beberapa waktu yang lalu sempat menulis untuk kebutuhan UTS mata kuliah Berbicara Individu, daripada hanya teronggok dan bisa kapan saja sengaja atau tidak sengaja terhapus, lebih baik saya unggah di sini, walaupun sama-sama hanya teronggok, tapi setidaknya jika sudah terunggah di sini, kemungkinan terhapus secara sengaja lumayan kecil, dan jika kemungkinan terhapus pun pasti karena tidak sengaja sebab platform WordPress yang saya pakai secara gratis ini gulung tikar atau hal lain.

Baca lebih lanjut

dan lain lain

Cara Menjadi Indie

Dewasa ini, indie sudah menjadi wabah yang menjangkiti muda-mudi Indonesia. Indie yang semula anti-mainstream menjadi ada di mana-mana dan menimbulkan kesan yang mainstream. Lalu apa sebenarnya indie itu? Menurut KBBI V yang saya unduh melalui playstore, kata indie adalah serapan dari kata independen yang memiliki arti: 1. yang berdiri sendiri; yang berjiwa bebas, 2. tidak terikat; merdeka; bebas.

Baca lebih lanjut