qarin and doppleganger

imam abil fida

Bunga — September 26, 2016

Bunga

untuk t

Jika hidup melahirkanku sebagai setangkai bunga, maka aku ingin menjadi setangkai bunga mawar yang merah.

Berdaun majemuk, berduri, dan tumbuh di atas tanah bumi yang sejuk.

Karena alasan sebagai keperluan untuk kepentingan memenuhi kebutuhan, kemudian bersama tangkai-tangkai yang lain, aku dipetik lalu diperdagangkan di sepanjang jalan.

Menunggu ada yang datang, diam terpaku terkena debu.

Hingga ada yang datang, seorang manusia yang laki-laki, menebusku dengan selembar uang.

Setelah itu dibawalah aku, tepat di depan pintu yang terketuk tiga kali dan terbuka.

Seorang perempuan sekarang, memasang muka masam, tapi semua kita tahu, sebenarnya perempuan itu senang bukan kepalang.

Lalu disodorkannya aku bersama maaf yang berkali-kali.

Tak lama setelah itu ada anggukan sekali, dan senyuman yang pelukan, pelukan yang menghangatkan, menghangatkan yang menyenyumkan.

Begitulah inginku, jika aku menjadi setangkai bunga.

Setangkai bunga mawar yang merah.

Setangkai bunga mawar yang dipersembahkan kepada perempuan yang marah.

Perkenalan — September 12, 2016

Perkenalan

Ada pepatah mainstream bilang begini: tak kenal maka tak sayang. Benar juga, bagaimana mau sayang kalau kenal saja tidak. Untuk itu, supaya saya dan kamu bisa saling sayang, tidak ada salahnya kita kenalan dulu.

Perkenalkan, nama saya, Imam Abil Fida. Dari lahir sampai menjelang lulus sekolah dasar, lebih sering dipanggil Abil. Kemudian semenjak masuk sekolah menengah pertama sampai sekarang, lebih banyak yang manggil Imam. Saya percaya, nama adalah doa, dan semua doa adalah baik. Jadi, mau bagaimana saya dipanggil, asal tidak melanggar undang-undang negara, semuanya sah dan boleh saja.

Saya lahir di Semarang bagian utara sebelah barat, 26 Mei 1999. Jangan lupa siapkan doa dan kado ditanggal itu. Sebentar, masih bingung dengan tempat lahir saya? Baik, akan saya jelaskan. Semarang, ibukota Jawa Tengah, itu luas sekali. Yang pertama ada Semarang kota, dan yang kedua Semarang kabupaten. Saya termasuk yang kota. Letaknya kira-kira di sepanjang pantai utara. Utaranya bagian barat, berbatasan langsung dengan kabupaten Kendal. Bagaimana, sudah mendingan? Intinya begitu.

Saya pertama menempuh pendidikan formal, sekitar tahun 2003 mungkin, di TK Ianatusshibyan. Kemudian berlanjut di MI Ianatusshibyan, SMP Negeri 28 Semarang, dan sekarang SMK Negeri 4 Semarang. Saat ini saya sudah kelas 12, sebentar lagi lulus.

Untuk hobi, saya suka membaca, menulis, dan musik. Tertarik juga dengan seni dan fotografi. Mau beli kamera, harganya berapa ya? Semoga tidak sampai harus jual ginjal.

Saya sudah memperkenalkan, sekarang giliran kamu.

Jadi, apalagi? Mungkin cukup di sini dulu postingan kali ini. Sampai jumpa lagi.

Cantik Itu.. — Mei 2, 2016
Kepada Para Jomblo —
BRT —

BRT

Sudah hampir dua tahun ini, saya mondar-mandir, bolak-balik, dan pergi-pulang menggunakan moda transportasi ini. Namanya Trans Semarang, menggunakan sistem BRT atau bus rapid transit, yaitu bus yang memungkinkan penumpangnya untuk pindah ke bus lain tanpa membayar lagi. Bus ini di kalangan masyarakat Semarang lebih sering dan nyaman terdengar sebagai BRT dibanding Trans Semarang sendiri. Apalah arti sebutan sebuah nama, yang terpenting adalah tujuan manggil siapanya sama. Boleh manggil Trans Semarang ini dengan sebutan apa saja, mau BRT silahkan, mau Trans silahkan, mau lebih lengkap Trans Semarang juga silahkan, mau manggil Beb juga silahkan, mungkin kamu sudah sayang banget sama bus yang satu ini, makanya sampai manggil Beb segala. Yang boleh-boleh saja tapi sebenarnya nggak boleh itu manggil bus yang satu ini dengan sebutan Becak, itu boleh sih, tapi sebenarnya nggak boleh. Ini bus, besar, rodanya empat, ada AC-nya, sopirnya di depan, bukan becak yang rodanya tiga, ada AC-nya alami, sopirnya di belakang. Bisa bedain kan mana yang bus, mana yang becak?

Baca lebih lanjut

Sekilas Update — April 11, 2016

Sekilas Update

Disela-sela ngantuk saya yang semakin menggebu-gebu, tiba-tiba ada hal lain yang nggak kalah menggebu-gebunya. Hal itu adalah blog. Lama nggak menulis apa-apa di blog, durhaka sekali rasanya. Karena rasa yang nggak bisa disepelekan begitu saja itu, maka saya memutuskan untuk menulis sesuatu dan mempostingnya di sini, blog yang sudah lama nggak keurus dan hampir (mudah-mudahan jangan) jadi masa lalu.
Baca lebih lanjut

Perasaan — November 1, 2015
Tips Memutihkan Muka — September 1, 2015
Hallo — Agustus 30, 2015
Dibalik Kerumitan Rumus Fisika — Maret 18, 2015
Selamat Jalan Kawan — Maret 17, 2015
Kabarmu di Kemarau Panjang — Maret 16, 2015

Kabarmu di Kemarau Panjang

Di sebuah gerimis sore itu, kau mengatakan kepadaku, “Aku akan mengabarimu.”
“Aku pergi dulu.”
“Akan kutitipkan kabar itu dirintik hujan.”
“Kamu semoga baik-baik saja.”

Aku percaya sekali dengan kata-katamu. Kata-kata yang kau sampaikan dengan mata meyakinkan. Seolah-olah itu benar. Kau akan datang. Menepati janjimu itu.

Katamu kau menitipkan kabar-kabar itu ke rintikan hujan. Aku percaya itu. Dan aku terus menunggu. Walaupun aku tahu ini kemarau panjang.

%d blogger menyukai ini: